🌵

Rimbun

Rimbun
Kau terdengar bising dengan aku yang tak paham menyuling
Seolah lembarannya terlalap, dan kau pun kalap
Bukankah aroma ini yang kau nanti?
Sedikit manis, bukan?
Kecut, untuk kau pengecut.

Kau lebih dulu mengejaku, setiap ucap adalah kecerobohan.
Setiap temu adalah tamu tuk meramu.
Sayangnya, pijakan itu goyah untuk kau yang tak sungguh menyeduh.
Menyisakan ampas yang tak impas.
Kita tak pantas.
Lalu apa yang pas?

Ibarat Bizantium yang kini menjadi lalu.
Pada rimbun yang terhalau,
Pada edelweiss yang telah layu
Jua pada Aku dalam setiap lembaranmu
Tak akan lagi bertemu.